logika sederhana antara kepo, perhatian, dan masochist

November 8, 2012 § 18 Comments

di-kepo-in itu penting. kenapa? karena itu tanda masih ada yg pengen tau care.

dan meng-kepo itu pun penting. kenapa? karena dibutuhkan ke-kepo-an dalam mendengarkan orang ngeluh curhat. minimal ada niat tuk kepo lah, walau cuman secuil. seriously, kepo alias rasa penasaran aliat minat untuk ingin tau itu sangat memegang peran penting dalam dunia percurhatan.

untuk jadi orang yg perhatian pun, kita butuh yg namanya ke-kepo-an. interest alias perhatian/minat, diawali oleh rasa penasaran. gampangnya, kalo kita ga penasaran —kita ga akan nyari tau; dan kalo kita ga minat tuk tau —kita bakal ga perhatian. ya gak?! iya aja biar lanjut.

sekarang bayangkan ke dalam konteks orang curhat. kalo kita ga kepo (ato minimal ada niat tuk kepo) sama orang tersebut ato sama isi curhatannya, otomatis respon yg kita berikan saat dia curhat akan berbanding 180 derajat dengan respon ‘normal’nya orang-orang mendengarkan curhat. standar abies. bentuk perhatiannya pun jadi sekedarnya aja, basa-basi gitu deh. ga asyik kan ya kalo begitu?

walau output-nya orang-orang kepo itu kadang ada yg ‘ganggu’ juga sih, terutama buat yg keseringan di-kepo-in. salah satunya, orang-orang kepo itu jadi punya tafsiran-tafsiran sendiri versi mereka (dari hasil kepo), yg bisa jadi tafsirannya ga match dengan yg ditafsir. nah!! misinterpretation deh. saran aja nih buat yg baru kelar kepo, konfirmasinya jangan ampe kelupaan. penting tuh. ehem.

ohya, yg saya liat rata-orang yg doyan kepo adalah tipe-tipe masochist alias hobi nyakitin diri sendiri, bukan dalam bentuk fisik sih emang tapi dalam bentuk psikis. eh tapi ini khusus ya buat para mantan yg hobi *uhuk* ngebukain akun *uhuk* mantan-mantannya yg udah *uhuk* asoy-geboy dengan pasangannya sekarang, padahal *uhuk* dirinya sendiri masih *uhuk* ngarep. nah ngapain coba tuh? kalo ga lain selain masih hobi iseng mainan silet sambil ngiris-ngiris bawang trus peresin juruk nipis di hati yg lukanya masih nganga. masochist.

kalo berdasarkan tulisan di atas, tampaknya nothing wrong with kepo toh?! so far masih dalam tahap pencitraan (jangan tanya ini tahap apaan) masih so good lah meng-kepo dan di-kepo ini. terutama buat yg di-kepo-in, ga rugi-rugi amatlah ya, minimal semacam permulaan belajar jadi artis gitu deh. belajar menerima perhatian sebelum ga ada yg merhatiin. prft.

buat yg hobi meng-kepo tapi dalam urusan hati, masa lalu, mantan, dan sodara-sodaranya, yaa.. up to you lah ya kalo emang masih hobi mainan silet, bawang, jeruk nipis, dan pritilan-pritilan sejenisnya. sedangkan buat yg masih meng-kepo dalam dunia percurhatan, teruskan. itu tanda kalian masih ada perhatian dengan orang lain dan lingkungan. INGAT! Jakarta itu keras, Bung. MERDEKA!!

jadi, biarkan saja mereka saling ber-kepo ria. seperti biarkan saja otak saya ini mikir manusia-manusia berdarah kepo itu aslinya amat-sangat-perhatian-banget ke saya, terutama ke masa lalu saya. tidak seperti saya yg tidak amat-sangat-perhatian-banget ke mereka, karena saya tidak meng-kepo balik mereka.

your interest, your problem.
your interpretation, your problem.
that’s not my problem.
but.. be careful with your back.

*lalala.. yeyeye..*

~salam~

§ 18 Responses to logika sederhana antara kepo, perhatian, dan masochist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading logika sederhana antara kepo, perhatian, dan masochist at pethakilan.

meta

%d bloggers like this: