di tengah dinginnya malam

June 28, 2011 § 9 Comments

Huah!! Bosan. Ini sudah tengah malam, sebentar lagi hari akan segera berganti tetapi manusia di sampingku ini belum juga menunjukkan gelagat untuk pulang, sudah lebih dari sejam dia sibuk berkutat dengan pikirannya, tak tau apa. Sementara aku hanya bisa bercakap-cakap dengan pikiranku sendiri sambil memandangi bermacam jenis kendaraan yang lewat di depan mata, dari mulai motor sampai truk gandeng.

Jangan heran karena saat ini aku dan dia sedang duduk di pinggir jalan lintas kota. Entah apa tujuan awal kami hingga akhirnya terdampar di tempat seperti ini, dia hanya menjawab “terus saja” di saat kubertanya mau kemana. Kurapatkan jaketku lalu meraih sebotol bir yang sempat kami beli tadi, menenggak habis isinya yang hanya tersisa sepertiga, mencari sedikit kehangatan palsu.

“Dingin ya?” tiba-tiba dia bersuara, aku menganggukkan kepala. Dia hanya tersenyum menanggapi responku.

“Kapan mau balik?”

Pertanyaan retoris sebenarnya karena ini bukan pertama kali kubertanya dan aku sudah tau jawabannya.

“Nanti.”

Tuh kan, masih jawaban yang sama. Singkat, jelas, padat. Hah!! Jawaban macam apa itu?! Lebih baik memang kubiarkan saja dia melamun seperti itu, tak perlu kubertanya-tanya lagi.

Sebentar lagi jam di HPku akan berganti angka menjadi 01:00, matapun rasanya sudah berat. Aku harus memaksanya pulang, tak peduli lagi dia mau atau tidak. Bukan apa-apa, aku takut tertidur saat nanti membawa motor. Sambil menutup mata seperti Deddy Cobuzier saja aku tak bisa, apalagi sambil tidur.

Aku segera berdiri setelah mengumpulkan sampah hasil bengong menemaninya, memasukkan dalam satu kantung plastik agar mudah membuangnya nanti. “Ayo pulang. Ngantuk.”

Dia mengeleng. Sekarang aku sudah di atas motor dan memakai helmku tetapi dia belum juga beranjak dari tempatnya duduk. Kusodorkan helm miliknya.

“Pilihannya pulang ato kutinggal.”

Matanya tajam menatapku.

“Kenapa lagi?” sahutku malas sambil menyalakan mesin motor.

“Aku suka sama kamu, aku sayang kamu, mau jadi pacar aku ga?” ujarnya pelan.

WHAT!? Apa dia bilang tadi? Suka? Sayang? Sama aku? Tidak salah dengar kan? Tapi bagaimana bisa?

“Ga usah becanda deh.”

“Aku serius.”

“Jah!! Bilang napa dari tadi, kan ga perlu bego berjam-jam di pinggir jalan kayak gini. Ayo naek!”

“Aku ga mau naek kalo kamu belum jawab” sahutnya, tanpa berpindah posisi.

“Iya. Aku mau jadi pacarmu. Aku juga sayang kamu, dari dulu malah. Dan jujur aja aku ga nyangka kamu bakal bilang gitu. Jadi cepet naek, ayo pulang. Aku ngantuk. Dingin juga.” Tak lupa kutambahkan senyum di akhir jawabanku.

Dia pun ikut tersenyum, berdiri, membersihkan celananya dari tanah yang menempel, berjalan ke arahku, mengambil helmnya dari tanganku, naik ke boncengan motor, memakai helmnya, dan memeluk pinggangku.

Ah.. Seandainya dia tau sudah dari dulu aku menyukainya tentu dia tak perlu menyiksa dirinya -dan aku- dengan berlama-lama menahan dingin di pinggir jalan, macam tak ada tempat yg lebih hangat tuk ‘nembak’ saja, salahku juga sih tak berani mengatakannya lebih dulu. Ya mana kutahu dia suka padaku sebab yang kutahu dia itu normal, bukan penyuka sesama jenis sepertiku.

~~~~~~~

eaaa.. another fiksi gagal. hands up dah. emang susah nulis sesuatu yg bukan pengalaman pribadi. kepikiran bikin ini juga dadakan, pas tadi di jalan liat banyak banget yg boncengan motor sambil peluk-peluk pinggang *hiks.. iri daku*, langsung ngetik di hape deh.

ohya, kalo ada yg bertanya-tanya akan jenis kelamin kedua karakter fiksi di atas, saya akan jawab: terserah kamu aja deh hehehe..

ya sudahlah, selamat membantai kalo begitu hahahaha.. banzai!!

*menghibur diri dengan memeluk diri sendiri*

~salam~

Tagged:

§ 9 Responses to di tengah dinginnya malam

  • yustha tt says:

    bener kan, aku udah nyangka kalo ini cerita percintaan sesama jenis.
    Nice fiction, Cyin…

    ~~~~~~~
    hiaaaaa.. mbak titik hebat euy bisa nebak duluan..
    ahahhahahhaahah

  • usagi says:

    Haaaaa haaaaa haaaaa
    Endingnya bikin sebel,,
    Kirainnn ini cerita ama yg itu :p
    *tutup mulut sebelum di jitak*
    Tapi asli ki,, gw pas baca imajinasinya ngebayangin itu ki,,
    Eh gak tahunyaaaaaa
    *penonton keceweeee

    ~~~~~~~
    cerita gue ma dia?
    hahahhaha in my dream aja dah..

  • ais ariani says:

    kalau iri kenapa gak meluk orang yang depan kamu ajah kemaren?
    ahahahhahahahahahahhahahahahaha….

    ~~~~~~~
    yg duduk di depanku kemaren?
    hahahahhahahah
    kalo itu mah in your dream..

  • liamareza says:

    hhhaaaaa….yang ngikut ngiri duduk mana?

    ~~~~~~~
    duduk disamping pak kusir yg sedang bekerja
    tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
    suara sepatu kuda..
    hahhahahhaha..

  • Yella Ojrak says:

    sialan. Kirain sama yang itu… (yang mana??) #ikutanUsagi

    ~~~~~~~
    iya, yg mana yak?? #amnesia

  • tunsa says:

    memeluk guling lebih enak bang๐Ÿ˜€

    ~~~~~~~
    weleh..
    sayangnya saya normal mas..
    masih doyan sama manusia,
    ga doyan ma guling..
    hehhehehhe

  • adizone23 says:

    pemaksaan secara halus…
    kalo dijawab ‘tidak” kejadian bakal gimana ???
    mungkin si cewek/cowok yang nembak bakal guling-guling di jalan ampe subuh…hahaha
    (just Kidding)
    :Peace:

    ~~~~~~~
    hahhahahhaa..
    iya ya klo ditolak gimana? #mikir

  • tutinonka says:

    Beneran nih, bukan pengalaman pribadi?
    *gakpercayagak percaya*๐Ÿ˜›

    ~~~~~~~
    sumpeh deh bunda ini bukan pengalaman pribadi
    saya masih doyan yg beda jenis, bukan yg sejenis
    hehhehehhehe

  • 'Ne says:

    ini mesti dan kudu dilanjutin sampai tamat.. eh tapi kayak gini juga udah cukup ya.. hehe..

    ~~~~~~~
    *edisi ‘ne sedang labil*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading di tengah dinginnya malam at pethakilan.

meta

%d bloggers like this: