ngutik-ngutik mindset

February 16, 2011 § 2 Comments

“Sang pikiran itu dapat dikendalikan, namun diperlukan usaha yang tidak ada habis-habisnya, ibaratnya mengosongkan sebuah samudra dengan menimba airnya setetes demi setetes dengan mempergunakan sehelai rumput kusa.” -Mandukya Upanishad, Bab III, Sloka 4-

Keterangan: Mungkin ada sebagian  sidang pembaca yang menanggapi dengan pesimis makna sloka ini, sepertinya  sia-sia saja usaha mengosongkan sebuah samudra, sudah setetes demi setetes, menggunakan  rumput kusa lagi, tentu saja tetesannya semakin kecil saja.

Ada sebuah kisah kuno, disebuah shastra yang dikenal dengan nama Hitopadesa, kisah ini sendiri termuat di sebuah bab yang disebut Tithipopakhyaha. Konon diceritakan di sini akan kisah seekor burung kecil yang menetaskan telur-telurnya di pasir  sebuah pantai. Namun disuatu saat air laut pasang, dan telur-telur ini terseret  semuanya ke laut. Sang burung kecil kehilangan ini, tidak mau menerima kenyataan ini, dan dengan menggunakan sehelai rumput kusa, sang burung setiap harinya berusaha menimba air laut tersebut setets demi setetes dengan harapan sang laut akan kosong suatu saat nanti, dan ia akan mendapatkan kembali telur-telurnya. Usaha ini secara diam-diam diperhatikan oleh Sang Garuda yang amat bersimpati kepada burung kecil ini. Sang Garuda menghampiri dewa laut dan mengancam akan menyerangnya kalau tidak mengembalikan telur-telur tersebut. Ternyata dewa laut ini sangat takut dan segan kepada Sang Garuda dan segera mengembalikan telur-telur ini kepada si burung kecil.

Pesan yang dikandung kisah ini jelas sekali: Walaupun mengalahkan sang pikiran itu adalah hal yang musykil dan tidak mungkin, namun seandainya seseorang itu beriman dan berusaha terus  secara berkesinambungan penuh dengan disiplin dan bhakti, maka Yang Maha Esa secara pribadi akan datang membantunya. Di Bhagavat-Gita, Sang Krishna menyatakan selangkah seseorang itu melangkah  ke arahnya, maka 1000 langkah Beliau maju menjemputnya, dan coba renungkan betapa besar, agung dan luasnya satu langkah Tuhan Yang Maha Esa ini. Kita berusaha tanpa pamrih di dalam kesehari-harian kita, biarkan Yang Maha Esa yang menentukan hasilnya; dengan melatih diri kita secara demikian, maka akan timbul hubungan denganNya, dan hubungan yang gaib ini penuh dengan kesadaran yang mencengangkan sang bhakta ini sendiri, ibaratnya ia tinggal di dunia ini, tetapi paada saat yang lain ia melihat dan juga hidup dan merasakan berbagai dimensi pikiran yang lain, karena sang pikiran yang tidak sibuk dengan berbagai suka-duka ini lalu secara otomatis masuk ke dimensi yang selama ini “tertutup” oleh kesibukan, kegalauan dan berbagai aktifitas kita, padahal di dalam kehidupan ini, ada keajaiban di dalam tubuh kita sendiri yang  harus kieksplorasi oleh kita sendiri!

dikutip dari sini dan gambar dari sini.

merubah untuk jujur dalam berpola pikir, bisa tapi susah.

ah mau merubah pola pikir ah.. biar ga galau terus, biar ga berasa apes terus, biar lebih positif memandang sesuatu, biar bisa move, biar bisa terus mengatakan (dan merasakan) untuk bahagia itu mudah. karena sekian lama jujur menjadi sosok yg palsu itu melelahkan *ckckck.. anomali, bahkan ‘kejujuran’ pun masih memiliki sisi yg berwarna abu-abu*.

jujur berkata-kata.

dan seperti Nietzsche yg mengajarkan aphorisme, aku pun hanya selalu ingin menjadi aphoris, apa adanya. karena realitas itu tak terbatas. bebas.

~~~~~~~
salam pethakilan

Tagged: , , ,

§ 2 Responses to ngutik-ngutik mindset

  • liamareza says:

    weiiiissssssssssss….suka kali saya sama postingan ini anak muda setengah baya…..

    ku kirimkan nanti jempol ini ke gubukmu dikala senja menyinari angan …

    ~~~~~~~
    hahahahhaa setengah boyone sopo?

  • ais ariani says:

    Nietzsche???

    ow em ji. nama dia bahkan tak pernah kusebut dalam semua tulisan ku!

    Yang tidak berbatas itu justru realita dalam dunia ide
    (duh)

    Kita berusaha tanpa pamrih di dalam kesehari-harian kita, biarkan Yang Maha Esa yang menentukan hasilnya..

    what a simple thing (or think? i dunno, really…)

    upanisad, pernah kudengar di kelas sejarah filsafat India. dan tidak pernah kudengar lagi setelah aku memutuskan untuk lulus dengan nilai C😦

    ~~~~~~~
    ga mesti juga kali ya SF nulis soal nierzsche,
    gue aja ga pernah nulis soal si …
    *mikir nama tokoh hukum*
    *damn gue ga inget siapa pun*
    nah, see?!
    gue jg ga tll ngerti nierzsche ngajarin apa,
    gue cm ngambil apa yg gue bisa tangkep
    bebas, jujur, apa adanya. thats it
    *betul ato salah, entah deh*
    ahhahahahhaha
    gue jg pas baca upanisad banyak yg gue skip karena ga ngerti,
    tapi untungnya ada penjelasannya
    *jd yg dibaca cm penjelasannya doank honestly*.
    berat euy isinya upanisad itu,
    mabok filsafat tengah malem gue..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading ngutik-ngutik mindset at pethakilan.

meta

%d bloggers like this: