seperti mimpi

March 21, 2012 § 5 Comments

Menyusuri jalan tanpa tenaga. Sesak dan hampa silih berganti. Masih tak percaya telah seminggu kau pergi untuk selamanya. Harus secepat inikah?! Mengapa rasanya masih seperti mimpi?

Kaki melangkah tak bertujuan, hilang arah. Tanpa disadari kutelah berdiri di depan cineplex tempat kita jalan pertama kali setelah ‘resmi’. Juga tempat di mana pertama kalinya kugenggam tanganmu. Mengingatnya refleks seulas senyum muncul di wajahku. Bagaimana tidak, dirimu yang tak bisa diam apalagi mengenal kata malu, saat itu tiba-tiba terdiam lalu tersipu malu.

Tak ingin berlama-lama terseret kenangan aku pun kembali melangkah. Kulihat kiri dan kanan banyak manusia-manusia berpasangan. Hari apakah ini? Mengapa jalan begitu ramai sementara aku di sini merasa sepi? Arkh!!

Ternyata kaki ini telah membawaku ke pelataran parkir kedai kopi favoritmu. Kedai kopi yang selalu kita tuju saat pergi bersama. Kedai kopi di mana kita sering berbagi cerita. Angan. Ambisi. Cita. Keluh. Semua.

Dengan pesanan menu yang selalu sama, secangkir kopi yang tak pernah cukup masing-masing satu dan sepiring pisang goreng yang kadang bertambah menjadi dua piring, serta berporsi-porsi diskusi dan debat yang tak ada habisnya karena kamu tidak pernah mau mengalah walau untuk hal paling konyol sekalipun. Kini takkan dapat kujumpai lagi aneka ekspresimu itu.

Sebaiknya aku segera pergi. Mencari tempat yang tidak membuat ingatanku tertuju padamu, sebelum rasa ini semakin menumpuk. Sakit rasanya saat aku menyadari bahwa takkan pernah bisa lagi aku mengatakan kata tersebut kepadamu secara langsung.

Rindu.

Kugadahkan kepala ke atas. Oris, lihatlah langit. Terang penuh bintang dan ada separuh purnama di sana. Apakah kamu melihatnya? Langit favoritmu. Dapatkah kamu melihatnya dari sana?

BRAK!!

Sontak kualihkan pandangan ke sumber suara, seperti suara benturan. Di seberang jalan sudah ramai orang-orang berkumpul. Apa yang terjadi? Menuruti rasa penasaran kuhampiri kerumunan tersebut.

Sebuah kecelakaan mobil.

Berdasarkan apa yang kudengar dari percakapan orang-orang di sekitarku, katanya si pengemudi mobil membanting stir ke kanan untuk menghindari seorang anak kecil yang tiba-tiba menyeberang, sialnya di sisi kanan ada mobil lain yang datang dari arah depan sehingga pengemudi itu harus kembali banting stir ke kiri dan entah bagaimana hilang kontrol sehingga menabrak pohon di pinggir jalan.

Kasihan.

Entah mengapa tatapanku tak bisa lepas dari mobil merah itu, aku seperti mengenali pengemudinya. Harus kupastikan. Aku berusaha mendekati mobil tersebut, banyak orang berkerumun di sekitarnya. Sedikit memaksa akhirnya kuberhasil mendekat. Kuintip sisi kursi pengemudi, seorang perempuan. Matanya terbuka, kosong. Wajahnya berlumuran darah dan ada beberapa pecahan kaca di sana. Dia tidak bergerak. Tak Bernyawa.

Tunggu. Mengapa rasanya aku pernah mengalami hal seperti ini? De javu. Kuperhatikan lebih seksama lagi wajah si pengemudi. Tidak, ini tidak mungkin. Aku mengenalnya. Perempuan itu Oris, kekasihku yang telah tiada sejak seminggu lalu.

Tuhan.. Katakan ini mimpi dan tolong bangunkan aku secepatnya. Ini mimpi yang buruk. Sekali melihatnya mati di depanku itu sudah cukup, tidak perlu sampai dua kali.

Kupejamkan mata dan membukanya kembali, masih pemandangan yang sama.

Ayo Danu lekas bangun.

Kepalaku mulai berputar. Kugoyangkan tubuhku untuk mengumpulkan kesadaran yang masih tersisa.

Danu!

Pelan kutampar pipi kananku, tidak terasa sakit. Kutampar lagi lebih kencang, pedih. Damn!! Ini bukan mimpi ternyata.

DANU BANGUUUUUUUN!! UDAH SIANG. KAMU GA KERJA?!

Gelagapan kuterbangun. Tubuhku basah kuyup. Tidak hanya tubuhku yang basah tapi alas tidurku juga. Mataku mengejap-ngejap bingung, berusaha secepatnya mengembalikan nyawa yang sempat berceceran.

Oris.

Dialah yang telah menyiramkan seember air, untuk membangunkanku. Dan setelah yakin aku benar-benar bangun dia pergi keluar kamar sambil tertawa terbahak-bahak. Puas.

Meninggalkanku termanggu di atas kasur basah. Perlahan-lahan mulai menyadari apa yang tengah terjadi.

~~~~~~~

another serial danu-oris.

pernah ngalamin hal yg sama hanya dengan versi ‘sedikit’ berbeda. berhubung serupa tapi tak sama jadi jatuhnya yg di atas itu tuh tetep fiksi yak hehehe..

hoaaam..

ya begitulah, ngantuk saya.

*melipir ke kasur*

note: danbo bokehnya disita dari sini.

~salam~

Tagged: ,

§ 5 Responses to seperti mimpi

  • gelap kali di sini
    *nyalainlampu*

    ~~~~~~~
    aduh silau kak..
    #matiinlagi

  • mylitleusagi says:

    kerennnnnn
    *jempoll*
    akii mah topp bagian oris dan danu..

    ~~~~~~~
    #tersapusapuikan

  • adizone23 says:

    bagus ceritanya
    saya request ya buat next story kalau bisa lebih dramatis atau juga tragis… :D

    si Oris punya kembaran yang psycho atau Danu hilang ingatan yang Danu ingat hanya masa lalu sebelum bersama Oris.haha

    (maaf, kebanyakan nonton film)

    ~~~~~~~
    huahahhahahhahhaha..
    next story yak
    tapi ga janji loh.
    kalo kepala lagi ikutan main drama pasti dibikinin.
    #janjisurga #kasihneraka #dilempar

  • ibnumarogi says:

    Kangen jalan-jalan ke tempat thakil, nih :mrgreen:

    ~~~~~~~
    ah macacih.. macacih.. #sokimut

  • ta says:

    err… ta juga pernah kayak gitu, dan parahnya ga sadar kalo itu mimpi, bangun-bangun nangis histeris manggil2 nama misua :(

    ~~~~~~~
    mimpinya terlalu menghayati euy..
    hahhaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading seperti mimpi at pethakilan.

meta

%d bloggers like this: